Minggu, 08 November 2009

Hukum Wanita Haid Masuk Masjid, Potong kuku & Rambut



Assalamu’alaikum wr.wb.
Saya pernah mendengar bahwa wanita haidh, nifas, atau junub, dilarang masuk masjid. Tapi ada rekan saya yang bersikukuh mengatakan bahwa hal itu hukumnya boleh. Lalu saya tanyakan kepada salah satu guru agama yang mengajar di sebuah majelis ta’lim, ia juga mengatakan boleh.

Hingga saat ini, terus terang, saya masih penasaran untuk mendapatkan keterangan tentang larangan akan hal itu. Tapi, alhamdulillah, sejak awal tahun 2009 di majalah alkisah ada rubrik fiqhun nisa’, dan kebetulan ada pembahasan yang sangat saya perlukan itu. Saya pun menjadi semakin yakin dengan yang selama ini saya telah yakini.

Kemudian saya punya pertanyaan, apa betul wanita haidh atau nifas dilarang memotongkuku dan rambut, hingga bahkan rambut yang putus pun harus dikimpulkan dan         dimandikan ketika mandi janabat? Terima kasih, semoga Antum selalu dalam lindungan Allah SWT. Amin……

Wassalamu’alaikum wr.wb.



 Irma Aljufri
Blok Kaum No. 225, Kalijati Barat,
Subang,41271



Wa’alaikumussalam wr.wb








Memang benar yang anti dengar dari ustadz tersebut bahwasanya menurut pendapat sebagian imam madzhab, seperti imam Ahmad bin Hanbal RA dan juga Madzhab Imam Dawud Azh-Zhahiri RA, diperbolehkan seorang wanita yang sedang haidh, nifas, atau junub, masuk ke dalam masjid. Tapi itu bukan pendapat Madzhab yang kita anut, yaitu Madzhab Imam Syafi’i RA, Madzhab mayoritas kaum muslimin di Negara kita, Indonesia, yang kita warisi sejak zaman walisanga.
Dalam kapasitas kita sebagai muqallid (orang yang bertalqid/mengikuti madzhab tertentu ), kita wajib konsisten mengikuti pendapat madzhab yang kita anut dan tidak diperkenankan mencampuradukkan pendapat para imam madzhab. Sebagaimana dalam pembahasan pada edisi yang telah lewat, dala madzhab kita, yaitu Madzhab Imam Syafi’I, seorang wanita haidh, nifas, atau junub, tidak diperbolehkan masuk kedalam masjid.
Kita memang dibebaskan untuk mengikuti salah satu madzhab dari empat madzhab fiqih Ahlussunah wal jama’ah. Tapi, kita tidak diperbolehkan mentalfik, yaitu mengikuti sebagian pendapat seorang imam dan mengambil bagian pendapat imam lainnya, alias mengambil yang enak-enak saja, sesuai dengan selera kita. Berdasarkan kesepakatan para ulama, hal itu tidak diperbolehkan, kecuali dalam masalah –masalah tertentu dalam madzhab kita di mana dalam mengerjakannya kita merasakan sempit atau berat.
Contoh dalam hal itu misalnya ketika melaksanakan thawaf. Jika kita mengambil pendapat madzhab kita yang menyatakan bahwa batalnya wudhu jika tersentuh kulit perempuan yang bukan mahram, akan sulit bagi kita untuk menerapkannya dalam ibadah haji, yang diikuti oleh begitu banyak orang pada saat itu dan jauhnya tempat untuk berwudhu. Dalam kondisi seperti itu diperkenankan berpindah kepada madhzab lainnya, dengan catatan memenuhi beberapa persyaratan sebagaimana yang disebutkan dalam kitab Bughyatul Mustarsyidin, karya habib Abdurrahman Al-Mayshur.
Pertama, harus memahami dengan jelas masalah tersebut dalam madhzab yang sedang dianut, baik syarat-syaratnya, maupun hal-hal lainnya.
Kedua, tidak mengambil pendapat yang lebih memudahkan baginya dari madzhab-madzhab yang empat.
Ketiga, tidak mencampur -adukkan hukum, pada satu masalah, di antara beberapa pendapat imam madzhab. Misalnya seseorang yang berwudhu dengan mengikuti tata cara wudhu madzhab Imam Syafi’I, kemudian ia mengikuti madzhab Imam Malik, yang menyatakan wudhunya tidak batal saat bersentuhan kulit dengan seorang wanita yang bukan mahram. Akibatnya dalam kondisi seperti itu, menurut madzhab Imam Syafi’I, wudhunya batal (karena bersentuhan kulit dengan perempuan bukan mahram), dan menurut madzhab Imam Malik wudhunya dianggap tidak sah, karena dalam madzhab Maliki seseorang yang berwudhu harus mengusap semua bagian kepala dan rambutnya, harus menekan setiap kali membasuh anggota wudhu, serta harus melakukan Muwalah (berturut-turut tidak diselingi kegiatan yang lain) ketika berwudhu, dan ini tidak dipersyaratkan dalam tata cara wudhu dalam madzhab Imam Syafi’i. Jadi kesimpulannya, jika tidak mau wudhunya batal dengan mengikuti madzhab Imam Malik, tata cara wudhunya pun harus dengan tata cara wudhu dalam madzhab Imam Malik.
Keempat, masalah yang untuk sementara waktu ia sedang bertaqlid kepada pendapat madzhab lainnya itu bukan masalah yang membatalkan keputusan seorang hakim.
Adapun masalah MEMOTONG RAMBUT DAN KUKU KETIKA SEDANG HAID ATAU JUNUB, memang sebaiknya dipotongnya setelah suci dari haid atau junubnya. Tetapi kalau ada sesuatu keperluan yang memaksa, hokum memotong pada saat itu tidak mengapa dan tidak perlu disimpan untuk nantinya disucikan bersamaan ketika mandi suci. Memang ada sebuah Hadits berisikan ancaman bagi mereka yang tidak menyucikan bagian anggota badannya ketika bersuci seperti disebutkan di bawah ini :



 عَنْ عَلِيٍّ رَضِيَ اَللهُ عَنْهُ قَالَ : سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ مَنْ تَرَكَ مَوْضِعَ شَعْرَةٍ مِنْ جَنَابَةٍ لَمْ يُصِبْهَا الْمَاءُ فَعَلَ اللهُ بِهِ كَذَا وَ كَذَا مِنَ النَّارِ , قَالَ عَلِيٌّ فَمِنْ ثُمَّ عَادَيْتُ شَعْرِي , وَكَانَ يُجْزِيْهِ
(رَوَاهُ اَحْمَدُ وَ اَبُو دَاوُدَ)

Berkata Sayyidina Ali RA, “Aku mendengar Rasulullah bersabda, ‘Barang siapa meninggalkan satu tempat dari rambutnya hingga tidak terkena air ketika mandi dari janabah, Allah akan memberinya siksaan sedemikian rupa dalam neraka.’
Maka Berkata Imam Ali, “Mulai saat itu aku gunduli kepalaku, lantaran takut ancaman tersebut.” (HR Ahmad dan Abu Dawud ).

Akan Tetapi hadis tersebut tidak diambil sebagai dalil oleh Imam Syafi’i RA. Jadi hukumnya tidak apa-apa memotong kuku atau rambut pada waktu haidh atau junub, hanya saja memang lebih baik mengakhirkannya hingga ia suci dari haidh atau junubnya.
Semoga penjelasan ini dapat membuka wawasan beragama kita, sehingga kita tidak menjadi seorang yang fanatik dengan Madzhab kita dengan meremehkan atau bahkan menyalahkan Madzhab lainnya.



*Sumber : Majalah Al-Kisah, pertanyaan tersebut dijawab oleh Ustadz Segaf bin Hasan Baharun













SocialTwist Tell-a-Friend
PRINTHALAMANINI PRINT HALAMAN INI

11 komentar:

  1. oh demikian toh, syukron jiddan penjelasannya...
    saya tau kalau mengambil syariah/aturan dari mazhab harus sempurna dalam arti rangkaiannya harus utuh tidak boleh caplok2..dengan contoh wudhu-thowaf tadi jadi lebih tergambar...ngangguk2 dalam hati, begitu toh maksudnya...senang bertemu dengan orang shalih..

    BalasHapus
  2. Masya Allah...
    ana adalah pendosa...
    ana bukanlah orang shalih...

    Tapi Insya Allah kita bersama-sama berusaha untuk menjadi orang yang bertaqwa kepada Allah Subhaanahu Wata'aalaa...

    BalasHapus
  3. maaf afwan,setau ana sih klo mau mengambil syariat bukan dari imam madzhab,tetapi dari dalil yg shohih dan bisa dipertanggungjawabkn.imam madzab manapun kalau meriwayatkn dalil yg tidak shohih atau terputus perawinya,maka dalil terebut tidak bisa dijadikan hujah.maka kita wajib mencari dalil yg shohih atau yg lebih shohih.

    BalasHapus
  4. memang benar seperti itu, tetapi bukan seperti itu juga,

    Masing-masing İmam Mahdzab mengambil İjtihadnya sendiri,
    seperti halnya tentang berwudhu,
    pada Surah Al Maidah ayat 6,
    İmam Hanafi mengambil hukum bahwa niat dan tertib di dalam wudhu itu tidaklah wajib, jadi tidak termasuk rukun, maka dari itu, rukun wudhu di dalam mahdzab Hanafi ada 4 saja,
    yaitu :

    1) membasuh wajah,
    2) membasuh kedua tangan sampai siku-siku,
    3) mengusap seperempat kepala, dan
    4) membasuh kedua kaki sampai mata kaki,,,


    nah...
    lain halnya dengan imam syafi'i yang mengambil dalil bahwasanya niat itu wajib,
    sesuai dengan hadits Rasulullah, İnnamal a'maalu binniyat....... dan karena pada ayat 6 Al maidah tersebut berurutan disebutkannya, maka imam syafi'ipun menjadikan 'TERTİB'itu sebagai rukun, maka di dalam Mahdzab Syafi'i rukun wudhu ada 6 :

    1) Niat di dalam hati sambil membasuh wajah,
    2) Membasuh wajah
    2) membasuh kedua tangan sampai siku-siku,
    3) mengusap kepala (minimal 3 rambutpun yang diusap, maka sah wudhunya), dan
    4) membasuh kedua kaki sampai mata kaki,,,

    begitu juga perihal tentang Air Mani, İmam Hanafi mengambil hukum bahwa Mani itu NAJİS, karena berdalil 'Setiap yang keluar dari lubang dubur ataupun qubul, maka hukumnya najis,dan harus Mandi Janabah dan harus mengganti celana apabila ingin sholat,

    tetapi İmam Syafi'i menyataan bahwa Mani itu adalah SUCİ hukumnya, karena berdalil :
    ketika Rasulullah sedang junub, maka Siti 'Aisyah [İstri Rasulullah] melihat Rasulullah selesai mandi wajib lalu Beliau Shollallahu 'Alayhi WAsallam hanya mengerik dan membersihkan bekas Mani yang menempel di pakaiannya saja, lalu kemudian Beliau sholat dengan pakaian yang sudah terkena mani tersebut,

    seperti itu saudaraku,

    Alhamdulillah ana sudah belajar Kitab Fiqih Mahdzab Syafi'i, seperti kitab Fathul Mu'in, Fathul Qorib, İbnu Katsir..


    dan sekarang ana sedang menyantren di Turki, di sini belajar Fiqih Mahdzab Hanafi, nama kitabnya adalah kuduri.

    BalasHapus
  5. memang benar seperti itu, tetapi bukan seperti itu juga,

    Masing-masing İmam Mahdzab mengambil İjtihadnya sendiri,
    seperti halnya tentang berwudhu,
    pada Surah Al Maidah ayat 6,
    İmam Hanafi mengambil hukum bahwa niat dan tertib di dalam wudhu itu tidaklah wajib, jadi tidak termasuk rukun, maka dari itu, rukun wudhu di dalam mahdzab Hanafi ada 4 saja,
    yaitu :

    1) membasuh wajah,
    2) membasuh kedua tangan sampai siku-siku,
    3) mengusap seperempat kepala, dan
    4) membasuh kedua kaki sampai mata kaki,,,


    nah...
    lain halnya dengan imam syafi'i yang mengambil dalil bahwasanya niat itu wajib,
    sesuai dengan hadits Rasulullah, İnnamal a'maalu binniyat....... dan karena pada ayat 6 Al maidah tersebut berurutan disebutkannya, maka imam syafi'ipun menjadikan 'TERTİB'itu sebagai rukun, maka di dalam Mahdzab Syafi'i rukun wudhu ada 6 :

    1) Niat di dalam hati sambil membasuh wajah,
    2) Membasuh wajah
    2) membasuh kedua tangan sampai siku-siku,
    3) mengusap kepala (minimal 3 rambutpun yang diusap, maka sah wudhunya), dan
    4) membasuh kedua kaki sampai mata kaki,,,

    begitu juga perihal tentang Air Mani, İmam Hanafi mengambil hukum bahwa Mani itu NAJİS, karena berdalil 'Setiap yang keluar dari lubang dubur ataupun qubul, maka hukumnya najis,dan harus Mandi Janabah dan harus mengganti celana apabila ingin sholat,

    tetapi İmam Syafi'i menyataan bahwa Mani itu adalah SUCİ hukumnya, karena berdalil :
    ketika Rasulullah sedang junub, maka Siti 'Aisyah [İstri Rasulullah] melihat Rasulullah selesai mandi wajib lalu Beliau Shollallahu 'Alayhi WAsallam hanya mengerik dan membersihkan bekas Mani yang menempel di pakaiannya saja, lalu kemudian Beliau sholat dengan pakaian yang sudah terkena mani tersebut,

    seperti itu saudaraku,

    Alhamdulillah ana sudah belajar Kitab Fiqih Mahdzab Syafi'i, seperti kitab Fathul Mu'in, Fathul Qorib, İbnu Katsir..


    dan sekarang ana sedang menyantren di Turki, di sini belajar Fiqih Mahdzab Hanafi, nama kitabnya adalah kuduri.

    BalasHapus
  6. Sangat bermanfaat sekali keterangan-keterangan saudara semoga bisa menjadikan ilmu yg bermanfaat bagi kami yg masih awam ini dan bisa mengambil yg baik utk di amalkan tanpa menafikan pendapat2 lain yg berbeda.

    Wassalamualaikum wr wb

    BalasHapus
  7. mav saudara ku anonim,
    apakah saudara tau, bahwa yang diijadikan dalil oleh para imam madzhab itu pasti bisa dipertanggung jawabkan? ketidaktahuan saudara terhadap dalil-dalil shahih atau hasan yang digunakan oleh para imam madzhab, tidak bisa dijadikan argumen untuk mematahkan argumennya para imam madzhab (EMANGNYA SIAPA SAUDARA....?).
    karena pada hakekatnya, saudara pun sedang taqlid kepada orang yang saudara pegang pendapatnya, misalnya al-albani, al-utsaimin dan otomatis anda bermadzhab al-albani atau lain sejenisnya.... begitu kira-kira..
    Kalau saudara mau tahu dalil-dali yang digunakan madzahab imam asy-syafii, bacalah kitab MA'RIFATUS SUNAN WAL ATSAR karya nya Imam al-baihaqi,dan masih banyak referensi yang lainnya..

    Selasa, 15 Februari, 2011

    BalasHapus
  8. saya bukan siapa-siapa, tidak punya ilmu agama, dan sedang belajar ilmu agama. tetapi melihat orang-orang islam saling mencela perbedaan pendapat di depan umum, membuat hati saya sedih! janganlah seperti itu, kita kan bisa berargumen dan menyatakan perbedaan dengan kata-kata yang baik. jangan sampai orang menganggap Islam itu agama yang menyusahkan dan menyebalkan, dan penuh dengan orang-orang yang menyebalkan. saya menghargai setiap pendapat orang yang santun dan berilmu. wassalam

    BalasHapus
  9. Anonim benar,ayo... janganlah kita menggunakan kata-kata yang tidak baik :)

    Wa'alaykum Salaam...

    BalasHapus
  10. Wah syukron ya ilmunya, semoga berguna untukku... Jadi tambah pengetahuannya... :)

    BalasHapus
  11. Alhamdulillah... sama-sama yha...
    İnsyaa Allah bermanfa'at :)

    BalasHapus

Silahkan curahkan komentar anda yang sopan dan membangun :)
dan silahkan ajak juga keluarga, kerabat atau teman-teman kita untuk berkunjung membaca & mendownload 'Ilmu-'Ilmu yang ada di www.pecintaislam.com ini